Tampilkan postingan dengan label alex marquez. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alex marquez. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

Just The Way You Are #5 (Fanfiction)




I Love You More Than You Know

Sebari menunggu ayahnya di lobi Amanda bermain game Flappy Bird di smartphonenya. Hari ini dia ada janji dengan ayahnya untuk jalan-jalan keliling Barcelona. Tapi karena ayahnya adalah orang sibuk Amanda diminta untuk datang ke kantor ayahnya. Garcia Group, begitulah nama kantor ayahnya. Ayahnya adalah seorang pemilik TV swasta yang sedang melejit di Spanyol. Dan sekarang disinilah Amanda, di lobi yang banyak sekali orang lalu lalang.
Amanda sudah tidak tahan menunggu ayahnya di lobi. Dia juga sudah bosan bermain game di smatrphonenya. Lalu jari mungilnya itu memijit tombol quit dan menuju kontak ayahnya. Awalnya Amanda ingin menelepon ayahnya dan menyuruhnya untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya tapi dia mengurungkan niatnya. “Lebih baik aku ke kantin saja,” ujarnya.
Banyak orang yang bersikap baik kepada Amanda. Maklumlah dia anak dari Garcia Group. Salah satu orang yang sangat baik kepada Amanda adalah Maria, dia adalah wanita bertubuh gempal yang berjualan di kantin. 
“Amanda,” ujar Maria sebari memeluk Amanda, “hai Maria,” “sejak kapan kau datang ke Barcelona, sayang?,” Amanda melepaskan pelukan Maria dan menjawab, “sebenarnya sudah lama, tapi aku baru berkunjung ke sini,” “pasti kau sibuk melukiskan kan?,” tanya Maria sebari membuatkan minuman kesukaan Amanda, Milkshake. “Si,” jawab Amanda sebari duduk. Sambil menyodorkan minuman kepada Amanda, Maria menarik kursi sehingga mereka kini berhadapan. “Adakah lelaki yang sudah merebut hatimu, sayang?,” tanya Maria genit. Amanda hanya tersenyum dan meminum milkshakenya. “Aku tau jawabannya iya kan?,” Amanda tersenyum kembali. Maria sangat excited mendengar sudah ada lelaki yang merebut hati Amanda. “Ceritakan kepadaku, apakah dia orang sini?, atau orang Indonesia?,” “dia orang sini, Spanyol,” ujar Amanda malu-malu. 
Maria tampaknya senang mendengar bahwa Amanda sudah jatuh cinta. Dari dulu Maria sangat greget dengan Amanda lantaran dirinya tak pernah membuka hatinya untuk  seseorang. Pedahal dirinya sangat cantik dan kaya, dan lelaki mana yang tidak ingin menjadi pacar Amanda pastinya banyak sekali yang mengantri untuk menjadi pacar Amanda. Tapi, dulu bila ditanya oleh Maria apakah sudah ada yang merebut hati Amanda, Amanda selalu berkata, “aku akan focus kuliah dan melukis dulu Maria,” dan kali ini jawabannya sudah. Betapa Maria senang mendengarnya.
“Ah sayang, itu jawaban yang aku tunggu-tunggu selama ini. terimakasih Tuhan telah melesatkan panah cupid pada Amanda,” Amanda mendongak dan tertawa, “siapa nama lelaki itu Amanda?, apakah dia tampan?,” Amanda tersenyum kembali dan Maria tertawa melihat Amanda yang sedang jatuh cinta ini. “Jelas dia sangat tampan kan?, setampan apa?, ayolah Amanda ceritakan padaku tentang orang yang kau sukai itu,” ujar Maria penasaran. “Dia seorang yang baik, murah senyum, menyenangkan dan yang pasti apa adanya. Dia juga seseorang yang hebat. Taukah Maria?, aku sangat nyaman bila didekat orang itu walaupun hatiku selalu bergetar dibuat olehnya dan juga aku selalu ingin bertemu dengannya,” cerita Amanda sebari menerawang, “apakah ini yang dinamakan jatuh cinta Maria?,” tanya Amanda polos. “Iya sayang,” ujar Maria tersenyum hangat. “Tapi, aku tidak tau apakah dia mempunyai perasaan yang sama padaku atau tidak Maria,” “kalau begitu, tanyakan saja,” “Maria yang benar saja!,” ujarnya dan merekapun tertawa.
                                                            ***
Dia seorang yang baik, murah senyum, menyenangkan dan yang pasti apa adanya. Dia juga seseorang yang hebat, entahlah apakah orang yang dimaksud Amanda adalah dirinya?. Alex sudah lama menguping pembicaraan Amanda dengan wanita gempal yang dipanggil Maria tersebut. Dan pikirannya dibuat bertanya-tanya siapakah orang yang Amanda maksud, tapi Alex sadar tidak perlu jauh jauh mencari jawabannya, siapa orang yang dimaksud oleh Amanda adalah kakaknya sendiri, Marc. Rasanya cintanya untuk Amanda harus bertepuk sebelah tangan. Tapi jika Alex memperjuangkan cintanya tersebut, dia harus berhadapan dengan kakaknya sendiri, tapi dia tidak ingin bersaing dengan kakaknya soal urusan cinta, Alex sudah kalah telak dibuat olehnya. “Aku akan terus menyukaimu, walaupun kau nyatanya menyukai kakakku, karena aku menyukaimu lebih dari yang kau tau,” gumam Alex sebari membalikan tubuhnya meninggalkan Amanda.
Langkahnya terhenti. Ternyata Amanda sudah menyadari kehadiran Alex. “Alex, sedang apa kau disini?,” tanya Amanda menghampiri Alex. “Aku sedang menemani Marc yang sedang wawancara,” ujar Alex. Rasanya malas menyebutkan nama Marc dihadapan Amanda, pasti ekspresi Amanda akan senang dan kesenangan itu membuat hati Alex tercabik-cabik. Andai aku berani mengungkapkannya padamu Amanda, bahwa aku sangat menyukaimu. “Marc?!,” tanya Amanda senang, terlihat dari matanya yang berbinar binar. “Ya dia sedang wawancara,” “kau sedang apa disini?,” tanya Alex basa basi dan terkesan dingin terdengar dari nadanya. “Rahasia,” ujar Amanda nyengir kuda. Alex tau Amanda siapa, Alex tau bahwa Amanda adalah anak dari pemilik stasium TV Garcia, Alex tau Amanda seorang pelukis dan lukisannya pernah dipamerkan dan mendapatkan juara disana sini bahkan Alex juga tau bahwa ibunya Amanda adalah orang Indonesia kemudian orangtuanya bercerai, Alex tau semua itu. Sebab setelah hari dimana kakak beradik Marquez mengantarkan Amanda pulang Alex mencari informasi tentang Amanda sebanyak-banyaknya karena entah mengapa Alex ingin mengenal lebih dekat dengan Amanda, atau sepertinya alasan kuat yang tidak disadari oleh Alex adalah dia sudah menyukai Amanda sejak pertama kali bertemu.
“Ah itu putriku,” ujar Gerardo, pemilik Garcia Group yang tentunya ayah Amanda. “Dia putrimu?,” tanya Marc sekali lagi, “ya, kau mengenalnya?,” “aku mengenalnya. Aku menolongnya saat barangnya dicuri,” ujar Marc. Gerardo memperhatikan Marc dengan tatapan khawatir, “baguslah kalau kalian saling mengenal. Aku jadi lebih lega mendengar Amanda mempunyai teman disini. Tolong jaga putriku Marc,” pinta Geardo, “dengan senang hati.”
Melihat ayahnya muncul, Amanda langsung menghampiri lelaki paruh baya yang terlihat masih muda tersebut. “Hey Amanda,” sapa Marc dan membuat kaget Amanda. “Alex darimana saja kau?, aku mencari mu kemana-mana loh,” ujar Marc sebari menepuk bahu Alex, “aku kira kau tersesat,” canda Marc, “hah kau mulai lagi Marc.” “Ayah ini Marc dan Alex, tentunya kau sudah mengenal merekakan?,” ujar Amanda dengan nada ceria, “iya putriku aku tau. Ayo kita berangkat, pasti kau sudah lama menungguku,” seketika raut wajah Amanda berubah dan bibir mungilnya dikerucutkan. “Marc Alex aku pergi dulu dah,” ujarnya dan segera mengejar ayahnya yang lebih dulu berjalan.

Setelah ayah dan anak itu meninggalkan kakak beradik Marquez, Gerardopun bertanya pada Amanda. “Amanda,” ujar Gerardo. “Iya?,” “kau dekat dengan mereka?,” Amanda menimbang-nimbang jawaban, “lumayan. Memangnya kenapa?.” Gerardo menggeleng, “ah tidak,” tapi ada ekspresi khawatir dari wajah Gerardo. Amanda menangkap ekspresi tersebut tapi dia tidak tau apa arti dari ekspresi khawatir ayahnya.
bersambung

Kamis, 03 April 2014

Just The Way You Are #4 (Fanfiction)

P.S : maaf kalau gajje bangeet dan gaada feelnya masih amatir u.u



This is A Dream?
Di restoan yang berada di La Rambla mereka makan siang bersama. Keheningan yang dibentuk oleh keduanya membuat Amanda gugup. Makanpun dia menjaga sikap. Yang biasanya suka bicara disela-sela mengunyahnya kini tidak. Ditambah lagi kelembutan music yang dimainkan penyanyi restoran membuat Amanda semakin gugup ditambah senang. Marc memang hebat dalam memilih tempat, pikir Amanda.
“Amanda,” ujar Marc yang telah selesai makannya begitupun dengan Amanda. Amanda mendongak sekaligus deg-degan mendengar panggilan Marc. Apakah Marc akan memintanya untuk menjadi pacaranya?, ah tidak secepat itu. Mereka baru beberapa hari bertemu dan rasanya aneh saja jika mereka langsung pacaran, ya kecuali jika keduanya memiliki perasaan yang sama. Tapi anehnya Amanda malah langsung menyukai Marc. Cinta pada pandangan pertama kah?, bisa jadi.
“Apakah kau besok ada waktu luang?,” Amanda menegang oleh pertanyaan Marc. Mungkinkah Marc akan mengajangnya berkencan?, sebaiknya jangan terlalu berharap Amanda karena kau besok juga ada janji. “Bagaimana ya besok aku ada janji bertemu dengan ayahku,” ujar Amanda sebari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tunggu dulu, apakah tingkah laku Amanda barusan wajar-wajar saja atau aneh?, ah Amanda jadi serba salah tingkah. Marc mengangguk-ngangguk, “oh begitu. Kalau lusa, bagaimana?.” Sebenernya juga lusa Amanda ada proyek lukisan yang harus dikerjakan. Apakah Amanda harus berbohong pada Marc agar dia bisa berkencan dengan Marc?. Saat Amanda akan memutuskan jawaban dari Marc, Marc mendahuluinya berbicara, “aku ingin memintakau untuk mometret saat aku bermain motorcross bersama Alex dan Rabat. Apakah lusa ada waktu?.”
Seketika saja bahu Amanda turun. Awalnya dia sudah deg-degan mendengar Marc bertanya tentang hari kosong yang dimilikinya. Dia menyangka Marc akan mengajaknya kencan atau apa, tapi ternyata malah meminta Amanda untuk memotret Marc dan teman-temannya yang sedang bermain motorcross. Ah dasar Marc Marquez sudah membuat Amanda GR.
“Kalau lusa?,” tanya Marc lagi, sebari tersenyum Amanda menjawab, “Aku sibuk mengerjakan proyekku Marc. Aku sedang mengerjakan sebuah lukisan.” Ekspresi wajah Marc berubah. Dia terliahat bangga, kaget dan senang. “Kau seorang pelukis?,” “masih amatir sih,” ujar Amanda merendahkan diri yang nyatanya lukisannya sudah mengikuti lomba disana-sini saat di Indonesia dan hasilnyapun lumayan membanggakan. “Dari dulu aku ingin sekali mempunyai seorang teman seorang pelukis, aku ingin dilukiskan,” ujar Marc sebari tertawa. Lihat saja Marc kejutan dari proyek lukisanku kali ini.
“Oiya,” ujar Marc sebari mengambil Smartphone sari saku jeannya. “Bolehkah aku meminta nomer hanphonemu?,” Amanda melongo menengarnya. Seriously? “Hey jangan bengong gitu,” ujar Marc menepuk punggung tangan Amanda. Amanda terperangah dan tawa Marcpun meledak. “Kau kenapa Amanda?, masih marah denganku?,” tanya Marc masih dengan tertawa. Amanda cepat-cepat menggelengkan kepalanya, dia sudah masa bodo dengan kejadian barusan. “Aku perhatikan sikapmu menjadi aneh begini, tidak selugas seperti biasanya. Apa makanannya kurang enak atau tempatnya kurang bagus?,” “tti..dak Marc aku baik-baik saja kok. Lihat aku masih selugas apa yang kau pikirkan,” ujar Amanda sebari merapatkan blezernya, “memang apa yang aku pikirkan tentang kau?,” walaupun itu candaan tapi membuat pipi Amanda memerah. “Aku hanya bercanda Amanda,” ujar Marc menghapus air matanya yang keluar karena tertawa. Segitunya kah Amanda sangat lucu dihadapan Marc?.
“Jadi?,” “jadi?,” tanya Amanda belum ‘konek’. Marc lagi-lagi tertawa dan pengunjung restoranpun sempat melihat Marc yang tertawa. “Jadi apa Marc?,” “ya ampun Amanda masa kau lupa. Bolehkah aku meminta nomer handphonemu?,” Amanda baru ‘ngeh’ dan membulatkan bibirnya. “Kau adalah gadis yang lucu, unik dan menyenangkan yang pernah aku temui Amanda,” Amanda hanya tersenyum dan memberikan nomer hanphonenya pada Marc. 

bersambung


Selasa, 25 Maret 2014

Just The Way You Are #3




Do You Can Fell What I Feel?

Di kediaman Marquez, kakak beradik itu sedang bermain  playstation dengan Marc player 1 dan Alex player 2. Mereka tenggelam dalam dunianya, bahkan mereka tidak menyadari saat ayahnya pulang. Dan di saat tenggelamnya mereka dalam dunianya itu Alex mengingat sesuatu akan hal yang ingin di tanyakannya pada kakaknya dan Alex mulai meyembul dari dunia yang diciptakan olehnya dan kakaknya.
“Marc?,” tanya Alex ragu-ragu, “huh?,” “apakah sudah ada perempuan yang membuat hatimu bergetar?,” “sudah,” jawab Marc masih tenggelam dalam dunianya. “Marc?,” tanya Alex sekali lagi, “percaya tidak dengan cinta pada pandangan pertama?,” Marc mengangkat bahunya, “percaya tidak percaya sih,” Alex mengangguk-ngangguk mendengar jawaban dari Marc. Dan Marcpun berteriak saat timnya yang dimainkan di playstation menjebol gawang Alex. “Jangan terlaku berisik Marc,” perintah ayahnya Julia Marquez. Marc mem-pause permainan dan melihat kesekeliling, “aku ada disini jika kau mencariku di ruang makan,” ujar Julia berteriak. Marc nyengir, dia tidak menyadari bahwa ayahnya itu sudah pulang. “Kapan dia pulang?,” tanya Marc sambil melanjutkan permainan, “entahlah. Mungkin kita terlalu serius bermain sehingga tak menyadari ayah pulang,” “mungkin,” ujar Marc.
Alex belum puas dengan pertanyaan yang di ajukan pada kakaknya, masih ada pertanyaan yang mengganjal di hatinya. “Marc, rasanya menyukai seseorang itu seperti apa?,” Marc mengkerutkan keningnya bukan karena pertanyaan dari adiknya tetapi focus kepada permainan yang dimainkannya. “Bermacam-macam, tergantung kedudukanmu ada dimana,” Alex bingung. Tergantung kedudukan?, maksudnya?, kedudukan sama sama seperti dalam sepak bola, seperti itu?. “Maksudnya?,” tanya Alex. Dan lagi-lagi Marc menjebol gawang Alex. kali ini Marc tidak berteriak ataupun senang. Marc mem-pause permainan dan menatap Alex sebari menghela napas, “misalnya, jika kedudukanmu sedang di atas saat cintamu diterima oleh orang yang kau sukai tentu saja kau akan senang, seperti ya terbang di langit ketujuh. Tapi, jika kedudukanmu ada di bawah saat cintamu bertepuk sebelah tangan kau akan merasa patah hati,” ujar Marc menerangkan. “Lebih spesifik lagi, Marc,” Marc mengangkat alisnya, “kau akan merasakannya sendiri, susah menjelaskannya,” ujar Marc sambil menepis nepis lengannya.
Alex mengkerutkan keningnya, “kalau rasanya pacaran itu seperti apa?,” mendengar apa yang ditanyakan oleh adiknya Marc hanya bisa melongo. “Ada apa?, tak salahkan jika aku bertanyana seperti itu?,” Marc menghela napas kembali dan menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal, “Aduh Alex, umurmu itu berapa sih?, masa kau bertanya seperti itu?, apakah kau tak pernah pacaran?,” ujar Marc. “Jangan samakan Alex denganmu Marc yang selalu gonta ganti pacar,” timbrung Roser Alenta sebari membawakan cemilan untuk kedua anak lelakinya kemudian berlalu. “Tapi Alex sudah besar mah,” ucap Marc dan tak ada jawaban.
Jarang sekali Alex bercerita tentang asmara kepada kakaknya, jangankan asmara bercerita tentang ini itu juga Alex tidak pernah. Ada perasaan geli dan senang saat adiknya bertanya seperti itu, “nah Alex,” ujar Marc merangkul adiknya tersebut, “jika kau menanyakan tentang peremupaun apapun itu kepadaku, kau datang kepada orang yang tepat,” ujar Marc dan menepuk-nepuk dadanya seraya membanggakan diri, “aku ini jagonya dalam memikat hati para perempuam.” Alex menyunggingkan senyum seraya menghargai ucapan kakaknya walaupun dirinya ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Percaya Marc aku kepadamu soal urusan perempuan dan aku juga percaya kalau kau jago dalam memikat hati para perempuan lalu mencampakannya secara halus, kau inikan salah satu playboy kelas kakap.
Alex mengangguk mendengar ucapan kakaknya. Lalu mereka kembali lagi bermain playstation. “Oh iya Alex, maafkan aku saat aku mengira kau pergi keluyuran saat ku minta kau menjemputku di Airport,” ujar Marc, “dan ternyata benar kau telah mengantarkan seorang gadis as know us Amanda.” Ah nama itu. Tanpa sepengetahuan Marc, Alex menegang mendengar nama itu dan hanya mendengar namanya saja telah membuat hati Alex berdegup kencang seperti laju motornya di balapan.
                                                            *****
Di kediaman Amanda. Amanda dengan gesitnya menggerakan kuas di kanvasnya. Tak jarang dia memiringkan kepalanya dan  mengetuk-ngetuk dagunya. “Sepertinya hari ini cukup sampai disini saja,” ujar Amanda dan bangkit dari tempat duduknya.
Perut Amanda keroncongan, Amandapun membuka lemari esnya dan tak ada makanan disitu. “Sial,” gerutu Amanda. Mau tak mau diapun harus menuju ke supermarket untuk membeli sesuatu untuk dimakan.
Dengan hanya mengenakan blazer berwarna cokelat Amanda berjalan sendiri menuju Supermarket terdekat. Saat berjalan kepalanya tertunduk, mengingat-ngingat kejadian kemaren dan mencari jawaban mengapa dirinya melukis orang tersebut. Memikirkan itu semua Amanda menghela napas. 
Setelah sampai di Supermarket. Amanda membeli apa yang dibutuhkannya dan menyerahkan kepada tukang kasir yang bertubuh gempal. Saat di kasir, Amanda melihat sebuah majalah yang bertulisan, Baby Champ. Karena tertarik Amandapun menghampiri tempat yang berisikan majalah tersebut. Melihat Marc yang berada di cover itu dia tersenyum. Tak tau mengapa dia sangat senang melihat wajah tersebut, dan tiba-tiba saja hatinya bergetar. Mungkinkah?.
Dan sepasang tangan kekarpun menutup mata Amanda. Amanda berteriak dan memberontak tapi tetap saja berontaknya bisa dikuasi oleh si pelaku, “lepaskan aku!,” ujarnya. Si pelaku hanya cekikikan, “ini bukan candaan. Aku tidak bisa melihat, lepaskan aku!,” “aku tidak akan melepaskan tanganku sebelum kau menebak siapa aku.” Amanda terdiam. “Siapa?,” ujar Amanda serak. Dan bulir-bulir air matapun turun. Merasakan air mata di telapak tangannya, si pelakupun terkejut. “Kau menangis?,” “aku takut gelap,” isak Amanda. Si pelaku itupun melepaskan tangannya dan membalikan tubuh Amanda.
Marc merasa bersalah. Awalnya dia hanya bercanda melakukan ini, hanya ingin membuat kejutan saja, tetapi dia tidak tau kalau Amanda takut gelap. “Ssst…. Jangan menangis Amanda, ini aku Marc,” ujar Marc sebari menghapus air mata Amanda oleh jarinya. Amanda menunduk sebari terisak-isak. “Kau keterlaluan Marc,” ujar Amanda dengan suara serak. “Maafkan aku, aku hanya bercanda,” ujar Marc, “tidak lucu,” ujar Amanda sebari menghapus air matanya sendiri. 
Karena menyadari dirnya menjadi sorotan, Amandapun menuju ke kasir dan membayar kemudian keluar dari supermarket meninggalkan Marc.
Marc melongo meliat Amanda seperti itu. Niatnya hanya ingin menjahili saja tetapi menjadi seperti ini. Merasa dirinya bersalah Marcpun mengejar Amanda. “Amanda,” teriaknya. Tapi Amanda tak menghiraukan perkataan Marc. Dia terus saja berjalan sebari mengelap air matanya.
“Aku hanya bercanda, maafkan aku,” ujar Marc sebari menarik lengan Amanda sehingga mereka berpandangan. Kedua mata itu bertemu, kedua insan itu saling menatap satu sama lain. “Aku hanya bercanda, maafkan aku, aku tak tau kalalu kau takut gelap,” tambah Marc. Amanda melepaskan lengan Marc dari lengannya kemudian berbalik meninggalkan Marc sebari tersenyum.
Merasa sangat tidak enak kepada Amanda, Marcpun mengambil mobilnya yang terparkir di depan Supermarket. Lelaki itu kemudian menyalakan mesin menuju Amanda. Setelah mobil BMW nya menghampiri Amanda, Marcpun membuka pintu mobilnya dan menarik Amanda dengan paksa masuk kemobil tersebut. Diperlakukan seperti itu Amanda kaget, “apa-apaan ini Marc?,” ujarnya dan sudah berada di dalam mobil. Marc tidak langsung menjawab malah mengunci semua pintu mobilnya. Amanda kaget.
Marc menjalankan mobilnya sementara Amanda terus memintanya untuk menurunkannya. “Marc turunkan aku!” perintah Amanda. Marcpun memarkirkan mobilnya disuatu toko tapi masih saja mengunci pintu mobilnya. “Marc Marquez!,” ujar Amanda geram. Marcpun menatap Amanda, “aku tidak tau kalau kau takut terhadap gelap, maafkan aku. Niatku hanya ingin memberi kejutan saja kepadamu Amanda,” kejutan?, Amanda merasa senang mendengar kata tersebut. Dia ingin tersenyum tetapi senyumnya itu disembunyikan oleh topeng manyun di wajahnya. “Maafkan aku membuatmu menangis. Maukah kau memaafkanku?,” Amanda tertawa kecil, “aku serius,” ujar Marc. “Iya Marc aku sudah memaafkanmu,” ujar Amanda masih dengan tertawa. “Jangan-jangan kau hanya mempermainkanku saja ya?,” “tidak Marc. Tadi aku benar-benar kesal terhadapmu dan aku benar-benar takut gelap,” Amanda memanyunkan bibir mungilnya menandakan tadi dia benar-benar sebal. 
Setelah Amanda memafkan Marc, Marc bertanya-tanya apa yang dibeli oleh Amanda di Supermarket tadi. “Kau tadi membeli apa?,” tanya Marc, “aku membeli bahan makanan,” ujar Amanda sebari mengecek belanjaannya. Marcpun menjentikan jarinya dan melihat Amanda dengan semangat,”Amanda, bagaimana kalau kita lunch bersama?,” mendengar ajakan Marc, Amanda kaget. Jantungnya berdegup kencang. Marc mengajakku lunch?. Tanpa disadarinya setelah mendengar ajakan dari Marc Amanda tidak bernapas, tatapan mata Amandapun tak focus. “Kebetulan aku juga belum makan siang,” tambah Marc, “bbb…baik lah,” ujar Amanda dengan gugup.
Marcpun tersenyum dan tangan kekar itu tiba-tiba saja mengelus-ngelus rambut sebahu Amanda. Sontak saja jantungnya berdegup lebih cepat. “Nah Amanda, kamu seharusnya makan yang banyak jangan sampai kurus seperti Alex,” Marcpun terkekeh. Amanda hanya mengangguk saja, dia masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Marc barusan. Jika ini bukan di dalam mobilnya Marc, Amanda sudah melompat-lompat senang.
“Tadi kau melihatku di majalahkan?,” ujar Marc melihat Amanda dari kaca spion depan, “kau sudah taukan aku ini siapa?,” goda Marc. “Marc….” Ujar Amanda sebari tersenyum, “dulu saat kita bertemu kau tidak tau siapa itu Marc Marquez, setelah kau melihatku ada di cover majalah tadi kau jadi tau siapa aku,” canda Marc. Amandapun tertawa dan mencubit lengan Marc yang sedang menyetir.


bersambung