Tampilkan postingan dengan label just the way you are. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label just the way you are. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2015

Just The Way You Are #12 (fanfiction)

Hallooo..... maafkan aku baru ngepost lagi. maafin banget udah ngecewain kalian dan bikin kalian nunggu-nunggu kelanjutan fanfiction ini, pedahal saya tau nunggu itu adalah pekerjaan yang membosankan :( *emang ada yang nungguin gitu?* bukan karena apa-apa, karena jadwal kuliah saya yang padet jadinya sulit buat nge posting. tapi, tenang kok saya bakal namatin semua fanfiction yang saya buat walaupun tidak dalam waktu dekat karena saya berprnsip kalau cerita itu harus punya akhir dan enggak boleh ngegantung, kasian kan para tokohnya :(.

hmmm... udah satu tahun lamanya ya saya jadi penulis fanfiction dan blogger hehee.. 
.
.
.

We like Salvatore Brothers

Alex baru saja membuka pintu rumahnya saat suara seorang pria memanggilnya dari arah ruang tamu.

“Dari mana saja kau?” ujar Marc sembari melipat Koran dan menaruhnya di atas meja.

Alex tak menjawab pertanyaan dari kakaknya. Dia malah nyelonong saja dan merebahkan dirinya di sofa yang berada di depan TV.

Marc geram, merasa tak dihargai oleh adiknya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri adiknya. 

“Dari mana saja kau?” tanya Marc sekali, kali ini dengan nada di naikan.

“Bukan urusanmu.”

Marc menarik lengan Alex sehingga adiknya itu berdiri.

“Kau bilang bukan urusanmu, huh? Kau baru pulang pagi ini, kemana saja kau semalam?”

Alex menatap Marc dengan tatapan marah. Dia melepaskan cengkraman Marc dengan kasar dan mendorong dada kakaknya.

“Kau brengsek, Marc!”

Marc kaget dengan perilaku adiknya tersebut. Dia tak menyangka bahwa adiknya itu akan mendorong dirinya.

“Kapan kau akan dewasa, huh? Umurmu saja yang sudah besar tapi, perilakumu masih seperti anak kecil khusunya pada seorang perempuan.”

Marc menolak pinggangnya dan berdecak. “Tau apa kau tentang perempuan? Dasar anak kecil!”

“Aku memang masih anak kecil, Marc. Tapi, aku tau kalau perempuan itu tidak sama dengan boneka yang bisa dimainkan sesuka hatimu.”

Marc tertawa mengejek. “Mereka jelas berbeda, Alex.” 
 
“Lalu, kenapa kau mempermainkan hati mereka? Terutama dengan Amanda.”

Bayang-bayang Amanda muncul ketika Alex mengucapkan nama gadis itu. Apalagi ketika dirinya tengah mencium Laia, ada sedikit rasa bersalah menjalar pada dirinya.

“Kenapa kau terus membuat Amanda menangis, Marc? Memang apa salah dia?”

Marc tertawa sumbang. “Memangnya kenapa? Kau melarangku? Memangnya kau siapanya Amanda? Pacarnya? Ups, bukan kan?”

Tangan Alex mengepal mendengar perkataan Marc. “Kau brengsek Marc!!!!” ujar Alex sembari mendorong dada kakaknya sekuat tenaga.
 
Prang….

Marc terjatuh dan menghantam guci yang berada dibelakangnya. Ia melihat telapak lengannya berdarah dan menatap Alex dengan perasaan benci. “Sialan kau Alex!” Marc pun bangkit dan menghantam Alex sehingga mereka bergulat di lantai.
 
                                                                        *****
Roser buru-buru meninggalkan dapur saat dirinya mendengar suara benda pecah dari arah ruang TV. Setelah sampai di ruang TV ia kaget dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Kedua anaknya itu sedang melayangkan tinju kepada satu sama lain.

“Hentikan! Kalian ini apa-apaan?” ujar Roser.

“Dasar bajingan kau Marc!”

“Aku tak akan memaafkanmu Alex! Kau telah membuat lenganku berdarah.”
Bug…

Marc meninju pipi Alex. Adiknya itu mengerang kesakitan. Tapi, Marc tidak memberinya ampun, dia menarik kerah baju Alex dan memaksanya untuk berdiri. Marc sedang kalap. Dia meninju perut Alex sampai dengan adiknya itu muntah darah.

“Marc! Hentikan! Sadarlah, itu adikmu!” ujar Roser mengingatkan Marc.

Marc diam sebentar dan melihat ke arah Roser. Karena merasa diberi kesempatan, Alex pun mendorong tubuh Marc sehingga terjatuh. Dan kali ini Alex yang memukul Marc habis-habisan.

Roser memegang keningnya. Merasa tak mampu memisahkan kedua anakanya tersebut, ia pun berlari ke lantai dua untuk memanggil Julia.

                                                                        *****
Beberapa hari lagi pemberangkatannya ke Indonesia, Amanda ingin cepat-cepat sampai dimana dirinya itu meninggalkan Spanyol. Semenjak kejadian tadi malam, Amanda menjadi gadis yang pendiam. Walaupun Alex mengantarnya sampai rumah bahkan menginap di rumahnya dan menghibur dirinya tapi, tetap saja bayang-bayang Marc mencium wanita itu terus berselewengan dalam ingatannya. Saat ditanya oleh Maria pun, Amanda hanya menjawab seperlunya. Bahkan Amanda tidak mendengarkan nasihat dari Gerardo yang datang subuh tadi.

“Amanda,” panggil Maria menghampiri Amanda yang berdiri di teras balkon. “Kau harus makan, sayang,” bujuk Maria.

Amanda diam membeku. Tatapan matanya kosong dan kepalanya dimiringkan ke arah kanan. Gadis itu rapuh. 

“Ayolah sayang, sudah kubuat makanan kesukaanmu.”

Tak ada respon. Maria menghela napas dan mengusap-ngusap bahu Amanda.

“Aku tak tau apa salahku kepadanya,” ujar Amanda dengan nada parau dan air mata pun bercucuran. Benteng pertahannya telah runtuh. Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya.

“Sudahlah… dia memang brengsek.”

Amanda menghela napas dan menatap Maria. “Jika dia lelaki brengsek, kenapa aku tetap menyukainya Maria?”

“Karena cinta itu buta, sayang. Kau akan tetap mencintainya walau pun dia telah menyakitimu. Itulah yang di namakan cinta. Indah bila dibayangkan namun, sakit bila kenyataan.”

Amanda memejamkan matanya. Niat dia datang ke sini adalah untuk berlibur, untuk mencari inspirasi untuk lukisannya bukan untuk sakit hati.

“Ayo, sayang. Sekarang kita makan, ya?” bujuk Maria sekali lagi.

Amanda menggeleng dan melepaskan lengan Maria di pundaknya. “Tinggalkan aku sendiri, Maria.”

                                                                        *****
“Bagus bagus,” ucap Julia menatap putranya yang babak belur. “Jadi, sekarang kalian akan pindah profesi menjadi petinju, begitu?”

Marc dan Alex diam saja. 

“Jawab!!!” sentak Julia.

Roser menghela napas berat. Wanita itu menggelengkan kepalanya tak menyangka kedua putranya akan berbuat seperti itu.

“Alex yang mulai duluan,” adu Marc.

Alex menatap Marc dan membulatkan matanya.

“Kenapa Alex bisa mulai duluan?” tanya Julia.

“Dia…. Dia mabuk,” ucap Marc asal.

Sontak saja Alex bangkit dari duduknya.

“Kau,” tunjuk Alex pada Marc. “Benar benar brengsek sejati, Marc!!!”

“Memang benarkan kau mabuk? Memang apalagi kalau jam segini baru pulang kalau bukan mabuk?”

“Dasar brengsek!” Alex menarik kerah baju Marc dan melayangkan tinjunya.

Roser berteriak histeris sementara Julia geleng-geleng kepala. “kalian berdua hentikan!!!” perintah Julia. Pria itu pun berdiri dan mengisyaratkan kepada putranya untuk mengikutinya. Julia membuka pintu halaman belakang dan menarik kedua putranya ke tengah-tengah halaman belakang.

“Aku tidak tau kenapa kalian bertengkar, atau memang benar Alex mabuk dan menyerang Marc?”

Alex mengkerutkan keningnya, “aku tidak mabuk!”

Julia manggut-manggut. “Yasudah, sekarang jika kalian masih ingin bertengkar aku beri arena untuk kalian. Silahkan bertengkar sesuka hati kalian, kami tidak melarang. Jika, sudah ada yang menang beri tau kami,” ujar Julia berlalu.

                                                                        *****
Marc membuang muka saat dilihatnya Alex sedang membersihkan darah di sudut bibirnya menggunakan kaosnya. Baru kali ini dia meninju adik nya sendiri dan baru kali ini juga dia merasakan tinju dari adiknya.

“Aku tidak mabuk,” ucap Alex membuka suara. Lelaki jangkung itu menghampiri Marc dan menatapnya dengan tatapan benci.

“Aku menginap di apartemen Amanda semalam,” lanjut Alex.

Marc mengkerutkan keningnya. “Menginap?” tanyanya.

Alex mengangguk. “Dia sangat rapuh. Dan kenapa dia rapuh? Itu karena ulahmu Marc! kau sudah tau kan bahwa Amanda itu menyukaimu? Tapi, kenapa kau tidak sedikit saja menghargai perasaannya?”

Marc mengangkat bahunya. “Aku tidak tau kalau Amanda akan melihat kejadian itu.”

“Kejadian apa?”

“Memangnya Amanda tidak memberitaumu?”

Alex tertawa sumbang, “jangankan dia memberitau apa yang kau lakukan sampai ke apartemen buka suara saja tidak.”

“Lalu, bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Marc khawatir.

“Jangan pura-pura mengkhawatirkannya, Marc! kalau kau peduli kau tidak akan melakukan itu. Tunggu dulu, memangnya kau melakukan apa tadi malam?” Alex menjentikan jarinya. “Aha, aku tau. Kau tidak akan jauh-jauh melakukan making love atau mencium wanita yang baru kau kenal. Yayayaa as always.”

Merasa di rendahkan, Marc geram. Dia mendorong tubuh Alex sampai dengan terjatuh.

“Jaga ucapanmu! Jangan seenaknya kau berkata seperti itu!”

“Memang benarkan kejadiannya seperti itu?” cibir Alex.

“Sialan kau!”

“Kau yang sialan!!!!”

Bug…
                                                                        *****
Di ruang tengah yang menghadap ke halaman dimana Marc dan Alex sedang bertengkar, orang yang memperhatikan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

“Aku tidak menyuruh mereka untuk menjadi seperti itu,” ujar Julia.

Rosernya hanya meringis dan mengusap-ngusap dadanya.

“Entah apa yang mereka persoalkan, yang jelas mereka seperti orang yang tidak berpendidikan saja,” ucap Julia berlalu.

Roser menghela napas berat dan berpikir apa yang telah membuat kedua anaknya menjadi seperti ini. Kemudia, satu nama terlintas ke otaknya. Amanda. Apakah ini ada hubungannya dengan gadis blasteran itu?

                                                                        *****
Setelah kedua kakak beradik itu puas saling melanyangkan tinju, keduanya membantingkan tubuhnya pada rumput rumput yang dengan senang hati menopang mereka.

“Kita seperti Damon dan Stefan Salvatore,” ucap Alex tiba-tiba.

Marc hanya melihat sekilas kepada Alex yang tak jauh berbaring darinya, kemudian mengusap darah disudut bibirnya.

“Itu adalah cerita vampire yang dikarang oleh LJ Smith, bulan lalu aku baru membaca novelnya. Mereka itu adik kakak dan menyukai satu gadis yang sama yang bernama Elena,” Alex melihat ke arah Marc menunggu reaksi kakaknya.

“Akhir cerita itu bagaimana?” tanya Marc penasaran.

Alex tersenyum geli mendengar pertanyaan kakaknya tersebut. “Sebenarnya itu keputusan yang sulit bagi Elena, terlebih dia mencintai keduanya. Tapi akhirnya dia lebih memilih anak bungsu keluarga Salvatore yaitu Setefan, pedahal dia menyukai Damon juga."

“Kenapa Elena lebih memilih Stefan? Pedahal dia menyukai Damon juga kan?” Marc tertatih-tatih untuk bangkit dan duduk sembari menghela napas berat.

Alex pun melakukan hal yang sama dan mengangkat pundaknya. “Entahlah, aku belum sempat tamat membaca novel terakhirnya.”

Marc memutar bola matanya. “Lantas, Amanda akan memilih siapa? Aku yang bagaikan Damon atau kau yang bagaikan Stefan?”

bersambung......

Rabu, 23 Juli 2014

Just The Way You Are #11 (fanfiction)




ini cuman fiksi yaa :) selamat membaca :*


I’m Standing Here Watching You Crying
 

Maria dengan cekatan menata rambut Amanda dengan model gaya Messy Up-do. Riasan wajah yang Maria poles pada wajah Amanda tidak terlalu berlebihan. Sepertinya selain pintar di bidang tata boga, wanita paruh baya itu juga pintar dalam bidang tata rias.

“Wah kelihatannya seperti bukan aku,” ujar Amanda melihat pantulan dirinya dalam cermin di kamarnya.

Maria menghampiri Amanda tersenyum. “Kau sangat cantik Amanda. Kau bagaikan Dewi Yunani!”

Masih sambil memandangi pantulannya di cermin Amanda mengibaskan lengannya. “Kau terlalu berlebihan Maria. Aku ini biasa saja kok. Mungkin ini efek dari riasan mu, jadi aku terlihat seperti Dewi Yunani. Wah.. terimakasih ya Maria.” Amanda membalikan badannya dan memeluk Maria.

“Kau ini terlalu merendah, sayang. Riasanku ini biasa saja kok. Kau ini memang cantik, tanpa riasan saja kau sudah cantik apalagi memakai riasan.” Maria melepaskan pelukan Amanda dan meniup kening gadis itu yang berkeringat sedikit.

“Kira-kira Marc suka tidak ya dengan hadiah dariku ini?” Tanya Amanda tiba-tiba.

“Pasti suka, sayang. Lukisan mu itu sama bagusnya dengan lukisan Picaso.” 

Amanda tersenyum dan mengambil lukisan yang sudah di bungkus itu. Gadis itu keluar rumah dengan anggunnya. Tapi sayang ke anggunan itu harus hilang saat mendapati ayahnya, Gerardo ada di depan pintu hendak memencet bel rumah.

“Ayah?” Tanya Amanda kaget.

Gerardo melihat penampilan putrinya dari atas sampai bawah dan melihat sebuah kado yang Amanda pegang di lengan kirinya. “Mau kemana Amanda?”

Amanda hendak menjawab pertanyaan Gerardo tetapi ia hentikan lantaran Maria memanggilnya.

Wanita itu menghampiri Amanda. “Sayang, tadi ada telepon dari Alex Marquez, katanya apakah dia boleh menjemput mu atau tidak.”

“Marquez? Kamu mau pergi ke kediaman Marquez?” Tanya Gerardo dengan nada tak percaya. Jelas-jelas Amanda telah disakiti oleh anak sulung keluarga Marquez, tapi anehnya putrinya itu masih ingin menemui Marc. Gerardo tak mengerti tentang putrinya ini.

Amanda menunduk. Semenjak ia meminta pulang ke Indonesia, Gerado menduga bahwa Marc telah menyakiti hatinya. Kemudian dugaan itu benar ketika Gerardo menanyakan apakah ini ada hubungannya dengan Marc atau tidak, putrinya itu mengangguk pelan walau pun ia menambahkan kata “tapi” dalam jawabannya.

“Tapi Marc tidak sepenuhnya salah,” begitulah jawabnya.

Dari situ Gerardo memperingati Amanda untuk tidak dekat-dekat dengan anak sulung keluarga Marquez atau pun anak bungsungnya. Saat itu hati Amanda sedang nyeri nyeri nya dengan Marc, serta rasa benci pun muncul dari hati gadis blasteran Spanyol-Indonesia tersebut. Maka waktu itu Amanda berjanji untuk tidak dekat-dekat lagi dengan keluarga Marquez. 

“Oh ya ampun Amanda. Adakah kegiatan yang lebih bermanfaat ketibang pergi ke kediaman Marquez? Misalnya melukis? Atau aku akan mengajakmu jalan-jalan keliling kota Barcelona.” Ujar Gerardo sebari menghela napas.

Maria yang berdiri tak jauh dari  Amanda mengerti keinginan gadis itu. “Maaf kalau saya lancang. Tapi, izinkan Amanda untuk pergi ke kediaman Marquez. Ini untuk yang terakhir kalinya.” 

Amanda menatap Maria tersenyum kemudian beralih menatap Gerardo dengan tatapan memohon.

Gerardo menghela napas dan mengizinkan Amanda untuk pergi ke kediaman Marquez asalkan dirinyalah yang mengantar Amanda.

“Terimakasih ayah,” ujar Amanda memeluk Gerardo. Gadis itu melepas pelukannya dan menatap Maria.

“Terimakasih Maria. Tanpa kau mungkin aku tidak bias pergi. Terimakasih sekali,” ujarnya sebari berbisik.

“Sama-sama, sayang.”

“Oh iya, mau kah kau tinggal dulu disini? Atau kau menginap saja disini Maria, bagaimana?”

“Boleh saja.” Ujarnya.            

                                                                        *****
Saat di perjalan, Gerardo bertanya kepada Amanda, gambar apa yang ada di balik kanvas yang sudah di bungkus itu. 

“Ini gambar Marc,” jawab Amanda dengan malu-malu.

“Kau sangat menyukai Marc?” Tanya Gerardo.

“Yaa..” jawab Amanda dengan suara parau.

Gerardo menghela napas dan kembali menatap jalanan. Ternyata putrinya ini sangat menyukai pembalap playboy itu.

Amanda menatap pemandangan yang bisa dilihat dari jendela mobil dan pertanyaan berkecamuk di pikirannya. Memangnya salah kalau dia menyukai Marc? Gadis itu menghela napas dan teringat akan Ibunya, Lina. 

Ibu, kita sama. Hati kita sudah di tawan oleh lelaki Spanyol. Gumam Amanda dalam hati. Gadis itu menghela napas dan melihat ke arah Gerardo yang sedang focus menyetir.

“Memangnya kenapa kalau aku menyukai Marc?” Amanda kaget dengan pertanyaan yang baru keluar dari mulutnya itu.

Gerardo menatap Amanda dengan heran. “Mudah saja untuk menjawab pertanyaan mu itu, Amanda.” Ujarnya. “Karena Marc tidak cukup baik untukmu. Dia lelaki…”

“Lelaki Spanyol yang tidak bertanggung jawab dan tukang selingkuh?” potong Amanda dengan spontan.

Gerardo kaget. Tak menyangka putrinya itu akan mengungkit luka lama.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.” Ujar Amanda sebari memalingkan wajahnya.

Ya, orangtua Amanda bercerai lantaran Gerardo ketauan selingkuh dengan salah satu model yang terkenal di Spanyol. Saat itu Lina ada di Indonesia sementara Gerardo ada di Barcelona. Lina kira Gerado mengurus pekerjaannya di Barcelona dan sampai seseorang mengirimkan foto kepada Lina lewat Email. Saat itu Lina sakit hati melihat foto mesra Gerardo dengan model sialan itu. Dari situ Lina meminta Gerardo untuk ke Indonesia secepatnya dan meminta penjelasan tentang foto-foto mesra tersebut. Dari situ lah awal ke hancuran rumah tangga Gerardo dan Lina.

                                                                        *****
Alex gelisah, lantaran tamu yang di undangnya belum datang juga. Asalnya Alex menawarkan jemputan untuk Amanda tapi, seperti apa yang dikatakan oleh wanita yang mengangkat telepon rumah Amanda, gadis itu di antar oleh Ayahnya.

“Alex,” panggil seseorang mengagetkan Alex.

Lelaki itu bangkit dan menatap orang yang ada di hadapannya dengan kening mengkerut. “Laia?”

Wanita yang bernama Laia itu tersenyum. “Dimana Marc?” tanyanya.

Alex mengangkat bahunya dan mengedarkan pandangannya mencari Marc sekaligus mencari keberadaan Amanda. “Entahlah dari tadi aku tidak melihatnya. Pedahal dia yang punya acaranya tapi malah menghilang.”
 
Laia tertawa. “Kenapa kau tidak mencarinya?”

Alex menatap Laia. Aku dari tadi sedang mencari kok tapi, mencari Amanda bukan Marc. “Ah aku tidak sempat pikir.” 
 
Laia geleng-geleng kepala sebari tertawa. “Yasudah aku mau mencari Marc dulu ya.”

Alex mengangguk dan duduk kembali di sofa.

5 menit setelah kedatangan Laia. Akhirnya Amanda pun datang juga. Sebuah senyuman merekah di wajah imut Alex. Lelaki itu pun menghampiri Amanda yang celingak-celinguk.

“Hey,” ujar Alex sebari menepuk bahu Amanda.

“Hey Alex. Kemana Marc?”

Bahu Alex merosot saat Amanda bertanya tentang Marc. Bisakah semua orang tidak menanyai keberadaan Marc kepadaku? Bahkan orang yang aku sukai juga? Sial! Inikan pestanya Marc.

“Alex, are you ok?” karena dari tadi lelaki itu diam saja saat ditanya oleh Amanda.

“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Alex buru-buru. Kalau aku boleh jujur, aku tidak merasa baik Amanda.

“Well, dimana Marc?” Tanya Amanda sekali lagi.

“Entahlah, dari tadi aku belum melihatnya.” Alex menyuruh Amanda untuk duduk dan mengajaknya berbicang-bincang.

“Aku membawakan sesuatu untuk Marc. semoga dia menyukainya.” Amanda tersenyum pada benda yang ia pangku.

“Apa itu?” Tanya Alex penasaran.

Amanda menatap Alex dan tersenyum. “Ini rahasia, Alex.”

Gadis itu pun bangkit dari duduknya. “Oh iya, aku mau mencari Marc dulu ya. Dah Alex.” 

Alex hanya mengangguk dan menatap kepergian Amanda. Adakah seseorang yang mencariku? Tanya Alex pada diri sendiri.

                                                                        *****
 “Maaf kan aku jika selama in aku mempermainkanmu.”

Amanda menajamkan pendengarannya dan yang tadi itu seperti suara Marc. Dia pun melangkahkan kakinya kepada sumber suara dan membelok ke halaman belakang. Seketika langkahnya terhenti saat melihat Marc menicum seseorang.

Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya sehingga lukisan yang dibawanya terjatuh.

                                                                        *****
Marc tidak tau apa yang ada dibenaknya saat dia mencium Laia. Jelas-jelas ia tengah mencium tunangan oranglain. Tapi, anehnya wanita itu –yang menuduh anak yang dikandungnya adalah anak Marc tidak mengelak saat Marc mencium bibirnya. 

Pria itu menghentikan ciuman saat mendengr sebuah benda terjatuh. Marc melihat Amanda yang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Amanda,” ujar Marc kaget. Saat dirinya akan menghampiri Amanda, gadis itu malah pergi.

                                                                        *****
Alex sedang mengobrol dengan beberapa tamu saat suara Marc membuat semua tamu menengok ke belakang.

“Amanda, aku bisa jelaskan itu.” Teriak Marc tak peduli dengan tamu undangan yang bertanya-tanya pada dirinya.

Alex mengkerutkan keningnya dan melihat gadis yang mendukan wajahnya berjalan menembus kerumunan tamu undangan.

“Amanda,” gumam Alex.

                                                                        *****
Amanda berjalan cepat meninggalkan kerumunan tamu undangan sebari memegang dada sebelah kirinya. Dadanya itu sakit sekali. Coba banyangkan jika kau melihat orang yang kau sukai tengah mencium seseorang. Apa yang kau rasakan? Sakit? Ya sakit. Sakitnya itu disini. Di dada sebelah kiri. 

Marc memang brengsek. Sudah beberapa kali pria itu membuat Amanda menangis tapi, anehnya Amanda tetap saja menyukai Marc. Rasanya dia tidak kapok menyukai Marc walau pun hatinya terus saja sakit.
 
Gadis itu berdiri di gerbang rumah kediaman Marquez dan menangis sesenggukan.

“Amanda,” ujar seseorang sebari memegang pundak Amanda.

Amanda menoleh. “Alex.”

Alex pun menarik Amanda kedalam pelukannya dan membiarkan Amanda menangis disitu.

“Kenapa menyukai Marc bisa sesakit ini?” Tanya Amanda disela-sela tangisnya.

Alex memejamkan matanya. Seolah dia juga merasakan apa yang Amanda rasakan.

“Sudah ya jangan menangis,” bujuk Alex. “Kau tidak boleh membuang air matamu untuk pria brengsek itu.”

Salahkah jika Alex mengatai kakaknya dengan sebutan brengsek? Tidak juga dan memang benar bahwa kakaknya itu brengsek. Mengoleksi 18 mantan di umurnya yang sekarang genap 21 dan tak jarang dari mantannya itu menuduh Marc bahwa pria itu bapak dari anak yang mereka kandung. Dan sekarang, Marc membuat Amanda –orang yang ia sukai menangis dan merasakan sakit seperti mantan-mantan Marc.

Alex menggigit bibir bawahnya dan menatap tajam pada kakaknya yang diam mematung di halaman depan rumah mereka.

                                                                        *****
Marc menghentikan kakinya saat melihat Alex sedang memeluk Amanda. Pria itu tidak mengerti apa yang ia rasakan saat melihat pemadangan tersebut. Bisa dibilang hatinya nyeri. Tapi, sepertinya buka karena melihat Alex memeluk Amanda tapi, karena dirinya melihat Amanda menangis sesenggukan karena ulah dirinya.

“Aku… memang brengsek, Amanda,” gumamnya pada diri sendiri.

Dan saat bergumam seperti itu, dia mendapatkan tatapan tajam dari adiknya. Marc membalas tatapan tersebut dengan tidak kalah tajamnya. Entah kenapa rasa nyeri nya itu berganti dengan perasaan benci kepada Alex.

bersambung....

aku seneeeng sama part ini hehee.. gatau deh kalau kalian :) 
*kalian tuh siapa? :(*
*iya kalian. kalian yang sedang sudah membaca ini*
*emang ada ya yg baca?*
* :')* hahaa abaikan yaa :)