Minggu, 03 Agustus 2014

Damsel in Distress #2 (fanfiction)





Starring:
Marc Marquez as himself
Cara Delevingne as Allen Cassandria
Barbara Palvin as Amanda Garcia
Logan Lerman as himself
Lana Del Rey as Lana Garcia
Andrew Airlie as Fred Cassandria
Jennifer Connely as Sarah Cassandria

#Part2
 


Sebenarnya Allen merasa risih setelah Marc mengadakan konfrensi pers mengenai hubungan mereka. Banyak kilatan lampu para wartawan yang memotret dirinya dengan Marc ketika mereka jalan bersama. Ada juga wartawan gigih yang datang ke apartemennya ingin mewawancarai dirinya tentang sosok Marc dari sudut pandang pacarnya. Belum lagi teman-teman model nya memaksa Allen untuk membawa Marc ke tempat kerja dengan alasan mereka ingin berfoto bersama dengan rider MotoGP tersebut.

Maka dari itu Allen lebih nyaman hubungannya dengan Marc tidak dipublikasikan. Dia lebih senang mengirim pesan singkan kepada Marc untuk menemuinya di suatu tempat yang sepi dengan syarat tidak ada yang mengikutinya. Menurutnya itu lebih menyenangkan daripada kemana-kemana disorot oleh kamera wartawan.

Allen menghela napas setelah melewati semua itu. Dia melirik ke arah pria yang tertidur di sebelahnya. Dilihatnya setiap inci dari wajah pria itu. Halis, hidung, bibir, semuanya sempurna. Dia ingin semua kesempurnaan milik Marc ini hanya dimilika nya seorang.

“Marc,” gumamnya. Di sentuhnya bibir Marc dengan jari Allen. Senyum mengembang dari wajah cantiknya.

                                                                        *****
Mentari telah muncul dari peraduannya. Burung-burung berkicau menandakan pagi telah tiba. Allen membuka matanya pelan dan mendapati seseorang sedang memperhatikan dirinya percis di depannya.

“Marc!” ujar Allen kaget. “Untuk apa kau berada sedekat itu dengan wajahku?”

Marc tertawa dan duduk di atas Kasur. “Melihat kau tertidur. Memang apa lagi?”

Allen geleng-geleng kepala sembari tersenyum. “Seperti tidak ada kerjaan saja.” Ujarnya sembari bangkit dari Kasur tapi, lengannya di tarik oleh Marc sehingga tubuh Allen kembali terjatuh di Kasur.

“Mau kemana?” tanya Marc menarik tubuh Allen pada pelukannya.

Allen melihat ke arah Marc dan mencium bibir pria itu sekilas. “Aku mau mandi. Kau taukan aku  paling tidak tahan jika sudah bangun tidur tidak langsung mandi.”

Marc mengangguk dan mencium ubun-ubun Allen. “Kebiasan bagus, sayang. Oh iya, sore nanti aku ada tes di Brno. Kau mau ikut?”

“Menurutmu aku ikut atau jangan?”

Marc tertawa. Inilah kebiasan Allen, selalu melemparkan pertanyaan lagi pada orang yang bertanya pada dirinya.

“Tentu saja iya. Aku ingin kau berada di paddock untuk pertama kalinya kita pacaran.”

                                                                        *****
Allen memakai earmuff warna cokelatnya. Wanita itu paling tidak suka dengan suara bising motor atau mobil balap. Dia juga tidak menyukai profesi Marc yang menjadi rider. Di apartemennya dia tidak pernah menonton balapan, palingan kalau menonton dia akan menonton sesi podiumnya saja, itu pun kalau kekasihnya naik podium.

Dan sekarang, dirinya berada di lintasan balap lebih tepatnya di paddock Honda. Dia menyilangkan kaki nya dan menatap layar ponselnya dengan bosan.

“Hay,” ujar seorang wanita menyapa Allen. Tapi, Allen tidak menggubris sapaan itu. 

Wanita itu menghela napas dan duduk disebelah Allen.

“Kau Allen kan?” ujarnya dan mencolek bahu Allen.

Allen melihat ke arah orang yang mencoleknya dan melepas earmuff-nya.

“Iya?”

“Aku Vannesa, kau Allen kan?” ujar Vannesa mengulurkan tangannya.

Allen menjabat tangan Vannesa sebentar lalu mengangguk untuk membalas pertanyaan Vanne.

“Pasti ini kali pertamu menemani Marc di lintasan balap ya?”

Allen mengangguk lagi dan menundukan kepalanya memainkan ponselnya. Ia tidak membuka suara sedikit pun atau pun tersenyum saat Vanne bertanya kepada dirinya. Vannesa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku kekasih Marc Marquez itu. Sangat beda dengan Marc yang selalu ramah kepada siapa pun.

Derung mesin di berhentikan, Marc masuk ke paddock-nya masih menggunakan helm. Allen tersenyum melihat kekasihnya itu datang. Dia bangkit dan membukakan helm Marc. 

“Tes nya berjalan dengan lancar lho, berarti aku mendapatkan hadiah darimu kan?” ujar Marc manja.

Allen tersenyum dan melumat bibir Marc dengan lembut.

Melihat itu Vanne cekikian. “Okey sebaiknya aku pergi. Selamat bersenang-sennag love birds,” ujar Vanne berlalu.

                                                                        *****
Marc melingkarkan lengannya kepada pinggang ramping Allen. Pria itu terlihat membisikan sesuatu kepada Allen yang membuat wanita itu tersenyum. Mereka terlihat sangat bahagia tapi, kebahagiaan itu –lebih tepatnya kebahagiaan Allen harus hilang lantaran ada dua orang penggemar Marc yang mencegat mereka berdua.

“Marc Marquez!!” pekik kedua gadis itu.

Allen memutar bola matanya. Berisik sekali, ujarnya dalam hati.

“Marc aku minta foto berdua denganmu, ya?” ajak gadis berambut sebahu itu menarik Marc.

Allen membelalakan matanya melihat kekasihnya ditarik begitu saja tanpa izin darinya. Wanita itu melipat lengannya didada dan menatap malas pemandangan yang ada di depannya. Ke dua gadis itu terlihat senang, sementara Marc dia melemparkan senyum menawannya kepada penggemarnya. Sungguh, perilaku yang membuat Allen muak. Dia tidak ingin Marc memberikan senyum atau tawa renyahnya itu kepada para penggemarnya, kepada siapa pun! Sungguh, senyum dan tawa Marc itu seperti candu dunia. Sekali kau melihatnya kau akan ketagihan untuk melihatnya kembali.

“Maaf, maukah kau membantu kami?” tanya gadis berambut sebahu tersebut.

Allen menaikan halisnya.
 
“Maukah kau memoto kami bertiga?” pinta gadis yang satunya lagi.

“Hah? Kau menyuruhku?” ujar Allen dengan suara ditinggikan.

Kedua gadis itu mengangguk.

Allen berdecak dan meninggalkan mereka bertiga.

Marc bengong melihat perilaku pacarnya tersebut. “Allen, mau kemana?” tanya Marc.

Allen berhenti dan membalikan badannya. “Aku sibuk, bye..”

Marc menghela napas dan menghampiri Allen.

“Bisakah kau berlaku baik kepada penggemarku?”

“Misalnya?” tantang Allen.

Marc geleng-geleng kepala. ‘penyakit’ Allen kambuh lagi.

Allen mendengus kesal. “Dengar Marc, aku disuruh untuk memotret pacarku di gandeng oleh kedua orang gadis bodoh. Hello… kau kira yang memotret itu siapa? Mamah-mu? Bukan! Pacarmu Marc!” Allen melirik kepada kedua gadis yang berbisik-bisik itu dengan pandangan sengit.

“Sssttt pelankan suaramu Allen.”

Allen memutar bola matanya. “Sudah aku mau pulang aku muak berada disini,” ujarnya berlalu.

                                                                        *****
Dari mulai check out hotel sampai dengan sekarang di pesawat, Allen tidak mau buka suara dengan Marc. Dia sangat sebal dengan sifat Marc barusan. Seolah-olah pacarnya itu lebih menyayangi fans nya daripada dirinya. 

Sementara Marc, dia mencoba membuat obrolan ringan dengan Allen tapi, wanita itu hanya membalas ucapannya dengan bahasa tubuhnya. Karena merasa tidak nyaman dengan sifat pacarnya tersebut, Marc memberanikan diri bertanya tentang kejadian barusan walaupun pacarnya itu akan kambuh lagi penyakitnya.

“Kau ini kenapa Allen? Kau marah bila aku berfoto dengan fans ku?” tanya Marc.

Allen tak menjawab. Dia sedang serius dengan layar ponselnya.

“Allen?”
 
“Hmm?”

Marc menghela napas dan merebut ponsel pacarnya.

“Hey!” protes Allen.

“Kau ini kenapa sih?”

Allen menyenderkan punggungnya dan menatap awan biru yang indah.

“Kau ini kenapa Allen? Kau tidak suka jika aku berfoto dengan fans ku?” tanya Marc sekali lagi.

Allen melihat ke arah Marc dan berdehem. “Dengar Marc, semenjak aku pacaran denganmu bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu aku sudah tidak suka dengan fans mu itu, terutama fans perempuanmu. Mereka membuatku,-“

“Cemburu?” potong Marc.

“Ya tentu saja,” jawab Allen dengan cepat. Wanita itu menghela napas dan melihat ke arah ponsel yang digenggam oleh Marc.

“Mereka juga mengolok-ngolokku di media social.”

Marc mengkerutkan keningnya.

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa lihat di twitter atau facebook. Aku sakit hati Marc diolok-olok seperti itu!”

“Yasudah nanti aku akan buat tweet yang menyuruh mereka agar jangan mengolok-ngolokmu lagi.” Marc akan mengelus pipi Allen dengan punggung lengannya tapi, ia urungkan niatnya lantaran pacarnya itu malah memalingkan wajah.

                                                                        *****
Marc memandangai langit-langit kamarnya. Hari ini rencanya ia akan jalan-jalan ke Disney Land yang ada di Pranciss dengan Allen. Tapi, rencana tinggalah rencana. Pacarnya itu sedang menajalani pemotretan untuk salah satu tas branded yang ia buat.

Pria itu mengambil ponselnya dan melihat tanggal yang tertera di pojok kanan atas. Besok adalah hari ulangtahun Allen. Kado apa ya yang pantas Marc berikan kepada Allen? Tas? Sepatu? Pacarnya itu sudah memiliki lusinan tas dan sepatu. Jadi, dia ingin memberika kado yang berbeda.

Aha! Marc punya ide.

Pria itu mengambil kunci mobilnya dan menuju ke tempat yang dimana Allen tidak pernah mengunjunginya.

                                                                        *****
Amanda tengah memilih-milih novel untuk menambah koleksinya. Pedahal, di tangan sebelah kiri gadis itu sudah membawa dua novel yang ia pilih. Tapi, demi mendapatkan diskon gadis itu ingin membeli satu lagi novel. Karena setiap pembelian lebih dari 7 euro akan mendapatkan diskon sebesar 15%, hmm lumayan.

Bug

Novel yang ditarik oleh Amanda terjatuh dan novel itu jatuh di dekat sepatu pria yang memakai pakaian serba hitam plus kacamata hitam rayban.

“Maaf,” ujar Amanda dan mengambil novel yang ia jatuhkan.

“Iya tak apa-apa,” sahut pria tersebut. Pria itu menolak pinggangnya dan membuka kacamatanya. Matanya dengan cepat membaca judul novel yang ada di rak buku. Dan pada saat itu Amanda menjerit histeris.

“Kau kenapa?” tanya Marc kaget.

“Kau.. kau Marc Marquez?” tanya Amanda tergagap-gagap.

Marc menaikan halisnya dan mengangguk.

“Ya Tuhan aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini. Aku salah satu penggemarmu Marc! Aku selalu menonton setiap race dan kau melaju sangat kencang tak terkalahkan.” Amanda menghela napas dan tersenyum manis. “Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu,” ujarnya sekali lagi.

“Wah terimakasih ya telah menonton balapannya,” ujar Marc.

Amanda mengangguk dan mengkerut kan keningnya. “Well, kau sedang mencari novel?”

Marc mengangguk, kemudian fokus pada judul-judul novel yang akan ia beli.

“Untuk?”

“Untuk orang yang sangat special, Allen.” Marc tersenyum senyum saat dirinya mengucapkan nama Allen.

Amanda tertegun. Allen? Pikirannya tertuju pada seseorang yang ia kenal tapi, bukankah yang bernama Allen di dunia ini banyak kan? Jadi, tidak mungkin Allen yang disebutkan oleh Marc adalah Allen yang ia kenal, teman baiknya.

“Maaf, apa nama lengkap Allen? Karena aku mempunyai teman yang bernama Allen juga, tau saja Allen yang kau maksud adalah temanku.”

Marc melihat ke arah Amanda dan memandanginya dari atas sampai bawah. Mustahil bila pacarnya itu berteman dengan orang kutu buku seperti itu.

“Allen Cassandria Hernandez,” jawab Marc.

Amanda menganga. Waw, dunia ini memang sempit.

“Dia teman baikmu?” tanya Marc.

Amanda mengangguk. “Ya dia teman baikku. Kami berteman sejak kelas 7 tapi, kami kehilangan kontak saat kami sudah lulus SMA padahal kami berteman baik lho.”

Marc mengkerutkan keningnya. Pacarnya itu berteman dengan gadis kutu buku? Pacarnya yang selalu milih-milih teman itu? Marc masih tidak percaya.

“Kalau kau tidak percaya kau bisa tanyakan itu kepada Allen. Sebutkan saja nama Amanda Garcia dia pasti mengenalnya.”

Marc mengangguk kaku. Pacarnya itu memang seperti buku tertutup. Jika kau ingin mengetahui isinya kau harus membacanya, tentu saja dengan meminta izin kepada pemiliknya.


bersambung.....


saran dan kritik? hihii..
via twitter : @sindehpujiyanti
via bbm : 7caf6830

Jumat, 01 Agustus 2014

Three Spaniard #7 (fanfiction)




Hope you like it, guys :)


#PELURU7

Ketiga agen itu kini berada di apatemen Marc. Mereka dipusingkan oleh surat kaleng yang dilemparkan seseorang ke mobil Dani.


Besok jam 2. Bartolomeu Dias. Aku akan memberitaumu tentang Valentino Rossi.

Marc geleng-geleng kepala tidak mengerti maksud dari surat tersebut. memberitau tentang Valentino Rossi? Kenapa? Dan…siapa orang yang mengirim surat tersebut?

Jorge menghela napas dan mengambil surat tersebut. ia pandangi lekat-lekat tulisan tersebut, siapa tau ada petunjuk yang terselip dalam tulisan itu.

“Menurut kalian, ini hanya sebuah surat kaleng atau benar-benar surat?”

“Jika itu benar-benar surat, untuk apa si pengirim memberitau kita tentang Vale, apakah si pengirim ada di pihak kita? Dan sebenarnya siapa si pengirim itu?” tanya Marc bertubi-tubi.

Dani menghela napas. “Sebaiknya kita berikan ini kepada Dorna.”

Marc mengangguk. “Ya, pastinya. Besar kecilnya kita mendapatkan informasi, kita harus memberitau kepada atasan.”

“Besok jam 2, Bartolomeu Dias. Maksudnya apa?” gumam Jorge.

Marc menyenderkan punggungnya dan memejamkan matanya. Rasanya lelah jika dia harus di hadapkan pada situasi seperti ini, lagi. Lelaki itu menggelengkan kepalanya cepat. Aku tidak boleh mengeluh, gumamnya dalam hati.

“Maksudnya, kau disuruh datang besok jam 2 di La Rambla. Kau tau kan disana ada patung Bartolomeu Dias. Sepertinya si pengirim menyuruh kita untuk bertemu dengannya disana.”

“Face to face?” tanya Dani.

Marc mengangkat bahunya.

                                                                        ***
Setelah dia membeli bibit bunga matahari yang nyatanya bibit itu tidak diskon, Karen cepat-cepat pulang ke rumah dan ingin menanyakan sesuatu pada Andre.

I need to talk you,” ujar Karen pada Andrea yang baru saja keluar dari kamar mandi. 

Andrea mengangkat halisnya.

“Kau baru saja dari kapsul itu? Apakah ada Vale? Aku ingin menanyakan sesuatu padanya.”

“Kau ini kenapa sih?” Andrea memegang pergelangan Karen dan membawanya ke ruang keluarga.

“Kau membohongiku!” teriak Karen.

“Apa? Membohongimu?”

Karen berdecak. “Kau tau kan toko bibit bunga itu tidak sedang diskon.”
 
Andrea mengangkat halisnya.

Karen memutar bola matanya dan menghempaskan tubuhnya pada sofa berwarna putih.

“Dan juga, disana ada Dani. Kau tau kan dia agen Spanyol. Sepertinya mereka sedang memeriksa rumah kerja Vale disana, memangnya ada apa?” tanya Karen dengan lembut, siapa tau Andrea akan menjawab pertanyaannya itu.

Lelaki itu tersenyum dan mengacak-ngacak rambut adik tirinya. "Sebaiknya kau pergi ke salon atau berbelanja ke mall. Tabunganmu sudah diisi oleh Vale lho," ucap Andrea berlalu.

Amanda mendengus. “Hey! Aku tidak butuh uang, aku hanya butuh jawaban dari pertanyaanku itu! ” teriak Karen. Tapi percuma saja, Andrea tidak memberikan jawaban.

                                                                        ***
Marc menyesap kopinya yang ia beli di kantin kantornya. Sebenarnya sekarang sedang di adakan rapat yang membahas tentang pesan kaleng yang mereka terima saat di Jl. LookGuilty. Disaat genting seperti itu Marc malah berbohong izin kepada atasan dan rekan-rekannya untuk pergi ke kamar kecil sebentar. Tapi, nyatanya? Dia ada di kantin sedang membaca pesan yang Amanda kirim sore tadi.

Baiklah, jam 8 di stopan. Aku akan berada disana menunggumu. Tapi, jika kau membatalkan janjimu untuk yang ke tiga kalinya… aku tidak mau bertemu denganmu lagi, Marc. Maaf saja, aku tidak suka dengan lelaki yang selalu membatalkan janjinya. Aku harap kau mengerti itu :)
-Amanda

Marc menghela napas dan memasukan ponselnya ke saku celana PDH yang berwarna biru dongker. Dia bingung, apakah dia harus meninggalkan rapat yang mendadak ini dan pergi menemui Amanda atau… sebaliknya? Tapi, dia tidak ingin membatalkan janjinya lagi dengan Amanda. Ditambah dia menaruh hati kepada wanita blonde itu.

Akhirnya lelaki itu memutuskan pilihannya. Walaupun dia akan mendapatkan sanksi dari keputusannya.

                                                                        ***
Jorge melihat jam yang melingkar dilengan kirinya kemudian mendongak melihat kursi di seberangnya yang kosong. Itu adalah tempat Marc Marquez dan lelaki itu belum menampakan batang hidungnya. 

“Kemana Marc?” bisik Jorge pada Dani yang duduk disebelahnya.

“Bukannya dia pergi ke kamar kecil, kan?”

“Tapi dia belum kembali, Dani.”

Dani mengangkat bahunya.

Jorge menghela napas. Kemana anak itu? Atau jangan-jangan ia pergi dengan… ah ia, Marc pasti berkencan dengan gadis yang Jorge temui di apartemen Marc.

                                                                        ***
Marc memacu kencang mobil Audi putih miliknya. Dia berbelok tajam dan mengerem mendadak saat matanya melihat toko bunga. Sudah telat tidak membawa apa-apa pula, malu kan? Maka dari itu Marc inisiatif membeli bunga untuk Amanda.

“Yang ini saja,” ujar Marc mengambil buket bunga mawar merah.

Wanita tua pemilik toko bunga itu pun berjalan ke arah kasir dengan jalan seperti penguin. Marc menghela napas melihat cara berjalan wanitu tua itu yang lambat. Lelaki itu melihat jam tangannya, ini sudah jam 8.30, dia sudah telat 30 menit.

“Kembaliannya simpan saja,” ujar Marc berlalu.

Wanita tua itu berbalik dan mendapati pelanggan yang baik nan tampan itu sudah tidak ada. “Mungkin dia malaikat yang mampir ke toko bungaku,” ucapnya.

Marc memarkirkan mobilnya di pinggir trotoar. Dia melihat kesana kemari tapi tidak ada siapa-siapa. Kemana Amanda? Apakah wanita itu pulang begitu saja karena bosan menunggu Marc? bisa jadi.

Marc mengacak-ngacak rambutnya dan duduk bangku pinggir lampu jalan. Dia menatap mawar yang ia beli. Jadi, percuma saja dia membeli bunga mawar kalau hari ini atau besok dia tidak akan bertemu dengan Amanda.

“Hey, mencari seseorang?” ujar suara mengagetkan Marc.

Marc bangkit dan melihat kebelakang. Ternyata Amanda datang! Lelaki itu menghampiri Amanda dan spontan memeluk wanita tersebut.

“Kau kenapa Marc?” tanya Amanda kaget.

Marc melepaskan pelukannya dan menggeleng. “Aku hanya khawatir kau tidak akan datang dan tidak akan bertemu denganku besok atau pun minggu depan. Karena…” marc mengangkat bahunya, tak mengerti bagaimana mendekskrepsikan perasaannya jika ia tidak bisa bertemu dengan Amanda. “Entahlah, rasanya aku tidak mau jika harus tidak melihatmu. Maaf ya aku telat.” Marc memberikan bunga mawar dan mencium pipi Amanda.

Amanda menatap Marc dan mengkerutkan keningnya.

“Eh, maaf.” Ujar Marc.

“Tidak apa-apa.” Amanda menundukan kepalanya dan pura-pura mencium wangi mawar. Pedahal dalam pikirannya dia bertanya-tanya akan kelakuan Marc barusan. Agen itu mencium dirinya? Apakah Marc Marquez sudah jatuh cinta kepada dirinya?

                                                                        ***
Scott keluar dari kapsul dengan raut wajah marah. Pacarnya itu tidak membalas sms-nya atau pun mengangkat panggilannya. 

“Hay kak Scott,” sapa Karen yang sedang memakan pudding cokelat.

“Hay. Kau lihat Amanda tidak?” tanya Scott menghampiri Karen.

Karen mengangkat bahunya. “Oh iya, bisakah aku meminta penjelasan kepadamu?”

Scott mengkerutkan keningnya dan menarik kursi disebrang Karen. “Ya, kenapa?”

“Langsung ke intinya saja. Tadi, aku lihat ada agen yang memeriksa rumah kerja Vale. Memangnya ada apa? Bukannya Vale sudah bebas sudah bersih dari segala tuntutan?”

Scott menghela napas. “Anak kecil seperti mu tak usah ikut campur atau pun tau tentang semua ini.”

“Memangnya kenapa?”

Scott mendengus kesal. Anak ini selalu saja bertanya terus menerus jika dia tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

“Memangnya kenapa? Aku kan sudah besar dan juga… aku kan anak Vale.”

“Kau ingin tau sekali kenapa agen itu memeriksa rumah kerja Vale yang dulu?”

Karen mengangguk cepat.

Scott nyengir melihat reaksi Karen yang sangat penasaran. “Kalau begitu, kau cari dulu Amanda dan ajak dia pulang. Kalau kau sudah mengerjakan perintahku itu, akan ku jawab semua pertanyaan mu itu.”

Karen menyenderkan punggungnya. “Langit sudah gelap juga mau hujan.”

Scott berajak dari duduknya. “Yasudah kalau tidak mau juga tak apa-apa,” ucapnya berlalu.

Karen mendengus dan memakan kembali pudding cokelatnya. Gadis itu tau kalau Scott hanya memanfaatkannya saja dan pada akhirnya tidak akan menjawab pertanyaannya, walaupun kalau dijawab pasti jawabannya itu asal-asalan. Selalu seperti itu. 

Gadis itu merasa kesepian dirumah yang luas ini. Dan entah mengapa dirinya merasa ingin bertemu dengan Dani. Lelaki itu sangat baik dan rasanya nyaman saja jika ia berada didekat Dani. 

Karen senyum-senyum sendiri membayangkan awal pertemuannya dengan agen Spanyol itu. Ah, cupid kau sudah menembakan salah satu panahmu itu padaku.

bersambung....

Jumat, 25 Juli 2014

Proses Mencari Jati Diri

Pernah denger lagu River dari JKT48? Jika pernah pasti Anda tau bahwa ada kalimat be your self dalam lagu tersebut.

be your self...

Yes kata-kata itu mengganggu pikiran saya dan beberapa pertanyaan pun menari-nari di pikiran saya. Memang menjadi diri sendiri itu perlu bahkan wajib tapi, bagaimana kita menjadi diri sendiri jika kita sendiri tidak tau diri kita ini seperti apa? Atau...  kita ini bagaimana?

who am I?

Itu adalah kata-kata yang selalu dilontarkan oleh mantan kepala sekolah saya ketika SMA. Jika beliau kebagian menjadi pembina upacara, beliau selalu berkata bahwa kita harus mengetahui diri kita sendiri seperti apa dan menulis pertanyaan itu dalam buku Diary (karena beliau senang menulis Diary) dan tentu saja dijawab tapi, sampai sekarang saya tidak tau jawaban dari who am I? tersebut. Saya tau tapi, saya ragu jika saya seperti itu. Dalam kasus ini, itu disebut sebagai proses mencari jati diri.

Saya seorang gadis gemini yang berumur 18 tahun. Seharusnya dalam umur segitu saya sudah menemukan jati diri saya. Tapi, nyatanya saya tidak. Saya juga tidak mengerti tentang diri saya sendiri. Saya seperti ini tapi, kadang saya juga seperti itu. Labil kan?

Bisa dibilang saya tomboy. Saya menyukai bola dan balapan melebihi adik saya. Jika diskusi tentang bola, papah saya selalu kepada saya. Ketika ada piala dunia, papah saya ngajak nobar kepada saya. Sebenarnya siapa yang salah? adik saya atau saya? ._.

Kalau sudah senang yaa mau gimana lagi. Seperti selera saya dalam bermusik. Saya lebih menyukai lagu rock barat yang menghentak daripada lagu yang melow melow yang menurut saya tidak gentle sekali. Salahkah seorang gadis seperti saya menyukai lagu rock (paramore, 30second to mars, aerosmith, evanescence etc), MotoGP dan bola? Tidak, itu tidak salah, kalau menurut saya.

Dalam hal penampilan saya bisa dibilang cuek. Dibandingkan dengan adik saya yang lelaki, dia itu selalu memperhatikan penampilan dengan sangat detail. Kalau saya sih... apa adanya, simple dan yang pasti comfortable. Saya lebih menyukai setelan jeans, kaos dan dipadukan dengan jaket atau kemeja. Kemudian gaya berkerudung saya pun sederhana. Yang penting menutupi dada saja dan yang pasti tidak menyerupai punuk unta :)
Jika sedang berkumpul dengan teman-teman cewek atau pun cowok. Saya nyambung dengan pembicaran lelaki. Pasti mereka membicarakan klub kebanggaan mereka yang pastinya selalu menjadi rival berat klub kebanggaan saya dan juga soal balapan. Saya terkenal sebagai Marquez dikelas -_- haha.. dan juga saya terkenal dengan gadis pendengar musik rock. Sampai-sampai jika ponsel saya dicolokan kepada e-jeck, teman-teman saya -yang pastinya perempuan selalu protes. Katanya, "ngedengerin lagunya jangan pakai hp si sindi. Gombrang gombreng lagunya." Wah.... Mereka belum mengetahui betapa kerennya musik rock wkwkwk.

Saya sangat menikmati diri saya yang diatas. Simple, keren, tidak cengeng dan tentunya Lady Rocker! Tapi... masalah datang ketika saya satu angkot bersama dua remaja putri yang seumuran dengan saya. Tampilan mereka itu beda dengan saya. Rambutnya di tata dengan rapih. Wajahnya memakai make-up. Pakaiannya sangat cewek sekali. Memakai aksesoris. Sementara saya.... Kerudung biasa saja. Setelan jeans, kaos dan jaket. Riasan wajah.... tidak ada ._.

Sampai-sampai Mamah saya pernah bilang kepada saya begini, "neng kalau sudah kuliah mah agak pink dikit atuh. Pake make-up, mau Mamah beliin gak?." Azzzz -_- jadi selama ini saya dark gitu, ya? syedih :( Tapi, jangan kira. Saya ini bandarnya make-up (katanya sih). Saya juga suka maen dandan-dandanan dengan teman saya. Saya juga tau brand make-up yang bagus apa ataupun tas branded.

Jadi.. saya ini bagaimana? Saya ini tomboy tapi, saya juga memiliki sisi feminim yaaa walaupun sedikit.

So... who am I?

Saya adalah gadis yang bernama Sindi Primi Pujiyanti yang memiliki sifat cuek dengan penampilan, setia kawan, kadang kalau ngomong tidak nyambung, penyuka musik rock (terkenal sebagai parawhores, sebutan untuk fans paramore), disaat semua remaja putri ingin terlihat cantik saya malah ingin terlihat keren. Feminim? hanya 10% itu pun maybe.Yaaa.. selebihnya orang saja yang menilai saya ini seperti apa :D
 
Jadi teman-teman.... Ayoo.. temukan jati diri kalian! :) Dengan menulis A-Z tentang diri kalian dan temukan titik temunya :D. Semoga membantu yaa :) 


Special Quotes of This Post :)
 
Damn! it's true!!